Bandar Lampung, Kulintang.id — Mantan aktivis mahasiswa era reformasi dan juga mantan ketua KNPI Kota Bandar Lampung, M. Irfandi menilai demo menuntut solusi konkrit Pemkot Bandar Lampung dalam menangani persoalan banjir belakangan ini bermuatan politis.
“Kami prihatin dengan trend demonstrasi belakangan ini yang kehilangan arah dan etika, meski aksi itu merupakan hak demokratis. Tapi tetap harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan bertanggung jawab,”nilai M.Irfandi dalam aksi damai di depan kantor Walikota Bandar Lampung, Rabu 30 April 2025.
Dalam orasinya itu, M.Irfandi juga mengatakan demonstrasi adalah instrumen penting dalam perjuangan sipil, tapi ketika berubah menjadi aksi anarkis, berkata kasar, merusak fasilitas umum, dan mengganggu ketertiban, maka pesan moralnya justru hilang.
“Contohnya beberapa aksi baru-baru ini, dimana pendemo berkata kasar dan melakukan kekerasan verbal kepada petugas yang hanya menjaga aset negara,”ujarnya.
Menurutnya, perbedaan pandangan politik dan sosial harus disampaikan secara konstruktif. Ia menegaskan bahwa generasi muda perlu dibekali dengan pemahaman etika berdemonstrasi yang sehat.
“Harusnya tangkap itu dalang yang memprovokasi mereka. Jangan jadikan bencana alam untuk alat politik dalam menjatuhkan walikota. Kami dulu turun ke jalan membawa nilai dan harapan, bukan sekadar amarah dan kepentingan politik”, tambahnya.
Sebelum demo didepan kantor Walikota, para demonstran sempat menggelar aksi damai di depan kantor Kelurahan Pesawahan dengan menyuarakan dukungan masyarakat atas upaya dan tindakan Pemkot bandar lampung dalam pencegahan dan penaganan bencana banjir selama ini.
“kami bukan aparat kelurahan. Kami adalah rakyat yang dulu terkena banjir, kami tidak dibayar. Kami tidak terima atas ucapan 8 pendemo yang menyebutkan. Pemerintah Kota tidak bekerja”, tutup Irfandi. (*)




















