Kulintang.co (Lampung Barat)- Sebanyak 16 kasus penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada hewan ternak sapi ditemukan di Kabupaten Lampung Barat.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Lampung Barat Yudha Setiawan membenarkan hal itu dan menjelaskan dari 16 kasus itu terjadi di dua kecamatan, yaitu 12 kasus ditemukan di Pekon (Desa) Pagar Dewa, Kecamatan Sukau, dan empat kasus di Pekon Gunung Terang, Kecamatan Air Hitam.
“Kami juga sudah menerima laporan dari masyarakat terkait merebaknya penyakit cacar kulit yang menjangkit hewan ternak sapi tersebut,”ujarnya.
Untuk penanganan pertama dalam mengobati hewan yang terjangkit LSD ini, Disbunnak Kabupaten Lampung Barat memberikan suntikan vitamin kekebalan tubuh bagi sapi yang menderita penyakit tersebut.
“Jadi untuk saat ini sapi-sapi yang terpapar telah diberikan pengobatan dan penyemprotan cairan disinfektan,” ujar dia lagi.
Perlu diketahui, wabah LSD merupakan virus bermateri genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae yang umumnya menyerang hewan sapi dan kerbau.
LSD atau Lumpy Skin Disease merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari keluarga Poxviridae. Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan pada kulit sapi, terutama pada bagian leher, punggung, dan perut. Selain benjolan, sapi yang terinfeksi LSD juga dapat mengalami demam, kehilangan nafsu makan, lesu, dan mengalami penurunan produksi susu.
LSD pertama kali dilaporkan di Zambia, Afrika pada tahun 1929 dan terus menyebar di benua Afrika, Eropa, dan Asia. Pada tahun 2019 LSD dilaporkan di China dan India, lalu setahun setelahnya menyebar di Nepal, Myanmar, dan Vietnam.
Pada tahun 2021 LSD telah dilaporkan di Thailand, Kamboja, dan Malaysia. Tahun ini baru ditemukan di Indonesia.
Penularan LSD secara langsung melalui kontak dengan lesi kulit, namun virus ini juga dapat menular melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu pada ternak. *




















