Bandar Lampung, Kulintang.co — Bergabungnya lima partai non parlemen yaitu Partai Gelora Indonesia, Partai Garuda, PBB, Partai Perindo, dan Partai Hanura kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung, Arinal Djunaidi-Sutono (Ardjuno) nampaknya tidak bisa dianggap sebelah mata, Kamis 19 September 2024.
Bukan sekedar dukungan politik, Kondisi itu menggambarkan panggung demokrasi yang semakin komplek yang mengisyaratkan muncul kekuatan di luar radar dominasi partai-partai besar dengan bermodalkan arus bawah kekuatan rakyat.
Menurut Pakar Politik dari Universitas Lampung, Prof. Hamzah, dukungan itu sebagai upaya untuk membentuk “Koalisi Rakyat.” Sebuah perlawanan yang halus, namun tegas, terhadap dominasi politik yang sering kali hanya berputar di lingkaran elit.
“Secara normatif, dukungan ini memang tidak mempengaruhi pemikiran mereka, tetapi ini lebih dari sekedar formalitas,”ujarnya.
Di balik dukungan ini, tersimpan energi moral yang mengalir, mungkin tidak terlihat dari luar, namun terasa kuat di bawah permukaan.
“Ini menjadi mesin baru bagi pasangan Arinal-Sutono. Mesin yang mungkin tidak melakukan konsensus terhadap partai-partai besar, namun cukup untuk membuat mereka berdiri dengan percaya diri menghadapi rival-rival politiknya,”tambah Prof. Hamzah dengan nada penuh keyakinan.
Dukungan dari partai non-parlemen, kata Hamzah, tak sekadar angka atau formalitas. Ini adalah cerminan kecerdasan politik rakyat.
“Kita tidak bisa melihat dukungan ini di sebelah mata. Basis pendukung mereka ada, tersebar di berbagai daerah di Provinsi Lampung. Mungkin mereka tidak lolos parlemen, tapi bukan berarti mereka tidak punya pengaruh,”katanya.
Ada kesan bahwa kekuatan ini, meski kecil, bisa menjadi bola salju yang terus membesar. “Ini alarm bagi partai-partai besar. Meskipun sejarah nasional belum mencatat keberhasilan besar dari koalisi non-parlemen, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?” tanyanya retoris.
Namun, dibalik optimisme ini, Prof. Hamzah juga mengingatkan soal pemilih akar rumput Golkar yang mungkin tetap setia pada Arinal.
“Di depan layar, para kader struktural partai mungkin akan menunjukkan dukungan sesuai garis partai, tapi siapa yang bisa memastikan apa yang terjadi di balik layar?”analisanya.
Pada akhirnya, politik adalah permainan penuh kejutan. Dan dalam permainan ini, dukungan yang mungkin terlihat kecil bisa menjadi kekuatan yang tak terduga. “Ini seperti pertandingan yang belum selesai. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Hanya waktu yang akan menjawab,” tutupnya. (*/Red)




















